Grafis Desainer, Konsultan atau Kuli Gambar?

Grafis Desainer, Konsultan atau Kuli Gambar?

Grafis Desainer, Konsultan atau Kuli Gambar? untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu menyadari bahwa Grafis desainer merupakan sebuah profesi yang masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang di Indonesia. Sebagai seorang grafis desainer saya dan mungkin teman-teman lain kadang merasa sangat miris melihat kondisi seperti ini, dimana hasil karya kita tidak dihargai dengan layak.

Namun saya pribadi juga tidak kaget dengan keadaan seperti ini, melihat banyaknya grafis desainer pemula “Newbie” dan bahkan yang sudah profesional sekalipun seakan “Menjual Diri” dengan memberikan layanan mereka dan bersedia dibayar dengan “seadanya”. Kata “seadanya” disini saya gunakan sebagai representasi saya terhadap pasar lokal (Indonesia) yang sering kali saya dengar ketika mereka bertanya tarif kepada saya yaitu “Waduh, masa’ gambar gitu aja minta bayaran segitu?” mari kita telaah kata tersebut satu persatu:

Waduh: Menunjukan keheranan (kaget) dengan tarif yang saya sebutkan karena sudah terbiasa dengan iklan atau promosi-promosi dari para “penjual diri” yang memberikan tarif seadanya hanya karena takut klien tidak jadi memberi mereka proyek.

Masa’ Gambar Gitu Aja: Sebuah kalimat yang menjadi ciri khas klien yang menunjukan bahwa betapa profesi desain grafis merupakan profesi yang masih belum mendapat apresiasi khusus di pasar lokal. Dengan gampangnya kata tersebut seringkali ucapkan oleh mayoritas klien yang pernah berkonsultasi dengan saya, tanpa mereka sadari dalam prosesnya setiap desain (untuk branding) memerlukan riset yang mendalam untuk mendapatkan brand awareness target pasar mereka. Hal ini bisa dimaklumi namun tidak dapat dibiarkan, mengingat calon klien ini hanya berorientasi pada objek gambar yang kita buat, tanpa memperhatikan scope yang lebih luas, nah disini lah peran kita sebagai grafis desainer yang mau menempatkan diri sebagai konsultan untuk memberikan edukasi kepada calon klien, dan kalaupun klien akhirnya tetap tidak mau membayara sesuai tarif yang kita tentukan , setidaknya kita sudah memberikan edukasi kepada pasar dan berharap pasar lokal dapat lebih menghargai jasa kita, dan bukan kita malah akhirnya mengalah kepada calon klien dan memberikan tarif seadanya itu sama saja dengan kita menjual diri dan menempatkan diri sebagai KULI GAMBAR.

Minta Bayaran Segitu: Secara tidak langsung kata ini sekali lagi menunjukan betapa rendahnya profesi kita di mata calon klien, karena secara pasti calon klien ini membandingkan tarif kita dengan tarif para “Penjual Diri” yang beredar di pasar lokal. Beberapa tahun lalu saya sempat mendapati seorang logo maker lokal yang bersedia memproduksi logo untuk siapa saja secara gratis dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya hanya dengan tujuan untuk mempromosikan website nya, dan tentu saja langsung ramai pemintaan. Dalam hati saya merasa miris, bukan karena merasa tersaingi tapi merasa sedih mengetahui fakta bahwa betapa rendahnya profesi ini. Hal-hal seperti ini yang akhirnya menciptakan kondisi pasar yang sering mengucapkan kalimat ini.

Setelah membedah kalimat diatas dapat kita perhatikan bahwa secara signifikan dapat dibedakan antara Desainer grafis yang menempatkan diri sebagai Konsultan Sebagai bentuk penghargaan atas diri sendiri dengan tujuan mengedukasi calon klien dengan visi tercipatanya pemahaman pasar yang lebih baik akan profesi grafis desainer, dan keingingan membantu mengembangkan Brand calon klien dengan menciptakan brand awareness terhadap bisnis calon klien, atau Desainer Grafis yang menempatkan diri sebagai Kuli Gambar yang hanya mau mendapatkan project untuk sekedar menghasilkan Rupiah tanpa mempedulikan apakah hasil desain nya dapat membantu klien secara signifikan.

Grafis Desainer, Konsultan atau Kuli Gambar?

Atur pemahaman anda (Sumber gambar: lindforsdesigns.com)

Mungkin banyak teman-teman yang bertanya apa sih latar belakang penulis sampai harus menulis artikel ini? latar belakang saya hanya seorang grafis desainer otodidak yang tidak pernah secara resmi mempelajari dunia desain grafis melalui pendidikan formal, hanya saja saya tahu bagaimana menghargai diri sendiri, menghargai teman-teman yang harus membayar untuk mendapatkan pendidikan all about graphic designer melalui jalur formal, dan sekaligus mempunyai misi untuk memperbaiki pemahaman pasar lokal.

The point is, perlakukan klien anda bukan sebagai raja yang harus dituruti, tapi perlakukanlah klien anda sebagai sahabat yang membayar kita untuk mendapatkan hasil terbaik. So bersikaplah sebagai konsultan, yang selalu siap memberi masukan terhadap keinginan klien, karena secara tidak langsung ada klien yang merasa jauh lebih handal dengan memberi revisi yang membuat hasil akhir karya kita sama sekali tidak bermakna, tidak menjual dan tidak menarik, hanya karena klien merasa tidak cocok, tidak bagus, tidak serasi, tidak seimbang, dan banyak tidak-tidak yang lainnya, sementara mereka lupa kalau mereka membayar jasa kita sebagai seorang yang profesional dan paham mengenai apa yang mereka inginkan, paham mengenai target mereka (Apabila kita benar-benar melakukan riset dan bukan hanya ingin menerima bayaran), karena alasan ini di awal saya memutuskan terjun sebagai grafis desainer selalu memasang portfolio yang berbeda dengan hasil yang saya serahkan ke klien, karena waktu itu saya masih menjadi kuli gambar dan tidak memberi masukan-masukan yang baik untuk klien. Akhir untuk menjawab pertanyaan Grafis Desainer, Konsultan atau Kuli Gambar? silahkan posisikan diri anda sebagai konsultan yang baik.

Grafis Desainer, Konsultan atau Kuli Gambar?

Selera Klien VS Target Desainer

Share This:Share on Facebook5Share on Google+1Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*